Senin, 18 Juni 2012

Hubungan Agen- Struktur


Integrasi Agen-Struktur :[1] 
         Menurut Margaret Archer, masalah agen-struktur dapat dilihat sebagai masalah fundamental dalam teori sosiologi modern. Ditingkat superfisial masalah mikro-makro dari agen-struktur seringkali dibicarakan. Konsep agency (agen) pada umumnya merujuk pada tingkat mikro atau aktor manusia individual. Namun konsep inipun dapat merujuk kepada kolektivitas (makro) yang bertindak. Jadi, baik agen maupun strukutur dapat mengacu kepada fenomena tingkat mikro atau makro, atau kepada kedua-duanya. “Burns memandang pengertian agen manusia meliputi Individu  maupun kelompok terorganisir, organisasi, dan bangsa, Touraine memandang kelas sosial sebagai aktor. Bila kita menerima kolektiitas seperti itu sebagai agen, maka kita dapat menyamakan agen dengan fenomena tingkat mikro. Lagi pula meskipun konsep struktur biasanya mengacu pada struktur sosial berskala besar, konsep inipun dapat mengacu pada struktur mikro seperti orang yang terlibat pada interaksi individual”.[2]        
Teori Strukturasi (Ritzer dan Goodman hal 507)
          Tokoh yang paling terkenal dalam upaya mengintegrasikan agen-struktur dengan teori strukturasi adalah Giddens. Berikut pandangan Giddens mengenai strukturasi :
1.      Riset sosial atau sejarah yang menyangkut penghubungan tindakan seringkali disinonimkan dengan agen dan struktur
2.      Teori strukturasi merupakan hasil ramuan dari berbagai masukan :
a.       Berorientasi individual atau agen (interaksionisme siombolik)
b.      Berorientasi masyarakat atau struktur (fungsionalisme struktural)
Namun kedua hal tersebut ditolaknya karena harus berdasarkan praktik (interaksi) sosial berulang yang menghubungkan agen-struktur.
3.      Memusatkan perhatian pada proses dialektika dimana praktek sosial, struktur, dan kesadaran diciptakan.
4.      Struktur didefinisikan sebagai properti yang memungkinkan praktek sosial serupa yang apat dijelaskan untuk eksis disepanjang ruang dan waktu dan yang membuatnya menjadi bentuk sistemik.
5.      Struktur adalah apa yang membentuk dan menentukan terhadap kehidupan sosial, tetapi bukan struktur itu sendiri yang membentuk dan menetukan kehidupan sosial itu.
6.      Struktur selalu membatasi maupun memungkinkan tindakan. Struktur sering memberikan kemungkinan bagi agen untuk melakukan sesuatu yang sebaliknya tak akan mampu mereka kerjakan,
Giddens merumuskan : “Bidang mendasar ilmu sosial menurut teori strukturasi bukanlah pengalaman aktor individual atau bentuk-bentuk kesatuan tertentu, melainkan praktik sosial yang diatur melintasi ruang dan waktu.
Bernstein : Tujuan fundamental dari teori strukturasi adalah untuk menjelaskan hubungan dialektika dan saling pengaruh mempengaruhi antara agen dan struktur. Tidak dapat terpisah satu sama lain, ibarat dua sisi satu mata uang logam.
Held dan Thompson : Struktur diciptakan ulang didalam dan melalui rangkai praktik sosial berulang-ulang yang terorganisir oleh praktek sosial itu sendiri.
Elemen-elemen Teori Strukturasi : (Ritzer dan Goodman hal 509)
          Dalam upaya mencari perasaan aman, aktor merasionalkan kehidupan mereka. Rasionalisasi disini adalah mengembangkan kebiasaan sehari-hari yang tidak hanya memberikan perasaan aman bagi aktor tetapi juga memungkin mereka menghadapi kehidupan sosial secara efesien.
         Ada kesadaran yang sifatnya Diskursif, yakni memerlukan kemampuan untuk melukiskan tindakan dalam kata-kata. Dan kesadaran Praktis yang melibatkan tindakan yang dianggap aktor benar, tanpa mampu mengungkapkan dengan kata-kata tentang apa yang mereka lakukan.  Tipe kesadaran praktis inilah yang sangat penting bagi teori strukturasi dengan lebih memusatkan perhatian pada apa yang dilakukan aktor ketimbang apa yang dikatakannya.
          Keagenan. Berdasarkan kesadaran praktis ini, ada sesuatu yang harus dilakukan agen :
Menyangkut kejadian yang dilakukan oleh seorang individu, yang berarti adanya peran individu. Tidak akan ada struktur bila individu tidak mencampurinya. Bagi Giddens ada kekuasaan yang besar dalam agen, bahkan memiliki kemampuan untuk menciptakan pertentangan dalam kehidupan sosial. Agen tidak akan berarti apa-apa tanpa kekuasaan.
mengapa hubungan antara keagenan (agency) dengan struktur (structure) menjadi salah satu permasalahan teoritis didalam pemikiran teori-teori sosiologi
           Ada tiga tokoh selain Giddens yang banyak membahas tentan Agen-Struktur, yakni Archer yang mencermati hubungan keagenan dengan kultur yang mengelurakan konsep morphogenesis yang menyatakan bahwa ada ciri-ciri yang dapat dipisahkan dari tindakan dan interaksi yang menghasilkannya. Perspektif ini mengamati proses ini sepanjang waktu, memperhatikan rentetan dan siklus perubahan struktural tanpa akhir, perubahan tindakan dan interaksi serta perluasan struktural.
          Bourdieu yang memusatkan perhatian pada hubungan antara habitus dan lingkungan. Ada hubungan dialekta antara struktur objektif dan fenomena subjektif. Konsep yang dikemukakan oleh Bourdieu adalah Habitus (kebiasaan ) yang merupakan struktur mental atau kognitif yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial. Dan terakhir Habermas yang membahas tentang kehidupan-dunia dan sistem kolonisasi kehidupan-dunia oleh sistem.

Hubungan keagenan (agency) dengan struktur (structure): salah satu permasalahan teoritis didalam pemikiran teori-teori sosiologi
           Dalam teori sosiologi, ada perdebatan yang serius mengenai agen dan struktur.  Terutama teori strukturasi Giddens. Menurut Archer, ada dualitas “bagian” dan “individu” yang akan mempengaruhi mereka satu sama lain dan tak akan dapat dijelaskan. Seperti sebuah mata uang koin, sehingga menurutnya masalah  struktur dan keagenan justru mengaburkan keduanya. Sehingga Archer mengemukakan konsep Kultur dan Agensi. Yang memusatkan perhatian pada morphogenesis. Interaksi dan tindakan agen memunculkan struktur yang juga bereaksi dan berubah seiring tindakan dan interaksi para agennya. Dan perubahan itu senantiasa akan menciptakan perluasan struktural. Struktur adalah bidang material fenomena material dan kepentingan, sedang kultur meliputi fenomena non material  dan gagasan. Keduanya relatif otonom.  
          Penelitian beberapa tokoh tentang transisi dari sekolah ke bekerja telah berupaya mencari bukti empiris teori strukturasi. Kesimpulannya adalah bahwa struktur dan keagenan ternyata tak saling berkaitan sepeerti yang dikemukakan Giddens. Sehingga struktur dan tindakan secara empiris saling tergantung dan saling terlibat. Tetapi sebagian otonom dan merupakan bidang wewenang yang dapat dipisahkan.
          Landasasan teoritis Giddens dianggap kurang memadai untuk membuat analisis kritis tentang masyarakat modern. Giddens menolak metateori seperti positivisme dan teori-teori fungsional struktural sehingga ia tidak mampu mengambil gagasan yang bermanfaat dari metateori dan teori-teori itu.

Contoh dalam teori sosiologi yang dapat dijadikan contoh sebagai salah satu cara untuk menjawab permasalahan

          Satu contoh yang dapat digunakan untuk menjawab permasalahan Agen-Struktur adalah Habitus yang dikemukakan oleh Piere Bourdieu. Bahwa dalam menerapkan konsep habitus dan lingkungan, Bourdieu tidak hannyaberupaya membangun sistem teori abstrak, ia menghubungkan dengan serentetan pemikiran empiris dan dengan cara demikian terhindar dari perangkap intelektual murni. Penerapan pendekatan teoritisnya  tentang Distingsi yang meneliti preferensi estetis antara kelompok berlainan dalam sebuah masyarakat secara meyeluruh.




Contoh kajian :
          Menurut Bourdieou, kultur dapat menjadi sasaran ilmiah yang masuk akal, dalam hal ini yang saya ambil adalah komunitas penggemar Drama Korea. Yang menurut data berdasarkan jejaring sosial, ada 14.606 followers di twitter, dan 34.611 fans di facebook. Komunitas ini senantiasa berkumpul dan anggotanya bisa berbagi informasi tentang drama Korea.[3] Bila dilihat dari pandangan Bourdiue, ada lingkungan dan habitus didalam komunitas drama Korea ini. Habitus, karena mereka memiliki kebisaan yang sama, yakni menonton film drama Korea, dan selera mereka juga sama.
          Para penggemar drama Korea begitu fanatik, dan mereka rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan episode demi episode untuk menonton DVDnya. Atau bahkan mendonlodnya di komputer kantor bila ada episode yang baru keluar. Mereka juga mempunyai tokoh idolanya. Seakan mereka terhipnotis denga kebudayaan Korea melalui film dramanya.
          Ada perasaan, pemahaman dan kesadaran yang terinternalisasi dalam komunitas tersebut yang berada dalam dunia mereka.  Distingsi disini yang dilihat adalah selera keindahan antara berbagai kelas sosial. Melalui penerapan habitus dan selessa, terjadi penggolongan objek dan sekaligus mereka menggolongkan diri mereka sendiri dalam satu komunitas. Ada hubungan timbal balik diantara mereka, terdapat hubungan erat antara posisi sosial dan kecenderungan agen yang menempati posisi itu. Ada hubungan dialektika antara sifat produk kultural atau selera. Perubahan barang-barang kultural dapat menimbulkan perubahan selera, tetapi perubahan selera juga ada kemungkinan mengakibatkan perubahan produk kultural. (sebagai contoh, film drama Korea tidak mungkin mengganti pemeran utama dengan artis dari Malaysia atau negara lain, hal ini akan mengubah selera mereka. Bila selera mereka berubah, maka dapat mengurangi distribusi film drama Korea ke Indonesia). Struktur lingkungan tak hanya memelihara hasrat konsumen atas produk kultural, tetapi juga menentukan apa yang akan diciptakan produsen untuk memuaskan selera konsumen.

 Daftar Pustaka :

1.    1.  George Ritzer – Douglas J. Goodman. Teori Sosiologi Modern. Kencana 2004.

2.     2.  George Ritzer. Modern Sociological Theory. Mc Graw Hill. 2008

3.      Bryan S Turner. Teori-teori Sosiologi Modernitas-Posmodernitas. Yogyakarta. Pustaka Pelajar 2000. 

4.      4. Chris Barker. Cultural Studies . Kreasi Wacana 2004. 

5. 5..Bagong Suyanto  dan M Khusna Amal (ed) Aditya Media 2010. Teori Strukturalisme. Dalam  Anatomi dan  Perkembangan Ilmu Sosial

6.  6.   Majalah Femina 12-18 Mei 2012




[1] George Ritzer dan Goodman. Op cit hal 504
[2] Ibid.  506
[3] Majalah Femina 12-18 Mei 2012. Hal 74

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar